ada satu pertanyaan ini di blog saya yang ditanyakan oleh Bung Mayko Edison:

bagaimana jika kita pingin studi keluar negeri, tapi keluarga kita bagimana

atau saya coba frase ulang pertanyaan di atas, mungkin kira-kira yang dimaksud adalah demikian: “apakah beasiswa studi ke luar negeri juga bisa ikut menanggung keluarga kita?”

Menurut saya ini tergantung negara dan sponsor pemberi beasiswa, lama anda kuliah dan juga kesempatan kerja tambahan (part time job buat pasangan/keluarga anda). Sebagai catatan, keluarga yang dimaksud tentu istri/suami + anak ya. Tidak ikut keluarga besar anda😉

Saya akan bahas menurut pengalaman saya di Belanda dan Jepang. Jika ada yang mau menambahkan pengalaman dari negara lain, dengan senang hati ditunggu komentarnya.

Di Belanda, jika anda mengambil S2, lama program biasanya minimal 1 tahun dan maksimal 2 tahun. Jika anda mengambil program 1 tahun, menurut saya “tanggung” untuk membawa keluarga. Persoalannya adalah karena anda biasanya tidak bisa membawa keluarga langsung / pada saat bersamaan dengan kedatangan anda. Untuk ini anda harus memiliki “residence permit” atau ijin tinggal, semacam KTP yang diterbitkan oleh kota tempat anda tinggal di negara tersebut. Itu butuh waktu cukup lama, bisa beberapa bulan. Karena itu jika anda mengambil S2 kurang dari dua tahun sangat tidak disarankan untuk membawa keluarga.

Jika anda mengambil S2 dengan waktu 2 tahun, mungkin bisa. Catatan, ini hanya mungkin menurut saya. Tapi biasanya yang menjadi penghalang adalah biaya.

Biaya2x yang anda akan keluarkan untuk keluarga mencakup biaya apartemen dan asuransi cukup mahal. Biaya apartemen hampir dua kali lipatnya dari apartemen yang single dan asuransi juga artinya dobel, jika anda berdua atau ada tambahan jika keluarga yang dibawa lebih dari satu orang.

Jika anda mengambil S3, lama program biasanya sekitar 3 – 5 tahun. Untuk waktu yang panjang ini, saya pikir sangat mungkin untuk membawa keluarga. Selain nominal beasiswa yang anda dapat biasanya lebih besar dari beasiswa S2, anda juga punya banyak waktu jeda untuk memikirkan bagaimana mempersiapkan membawa keluarga untuk tinggal di sana.

Di Jepang, lama program S2 biasanya tiga tahun. Satu tahun pertama akan ditempuh sebagai “research student”. Satu tahun tersebut anda tidak akan mengambil mata kuliah, tetapi program2x yang bersifat pengenalan dengan lab atau profesor dimana anda akan bergabung. Nah biasanya untuk satu tahun pertama, anda bisa “menabung”, sehingga cukup punya “modal” untuk membawa keluarga. Selain itu di Jepang, biaya rumah menurut saya tidak terlalu mahal jika anda tidak tinggal di kota-kota besar seperti Tokyo, Yokohama, Nagoya dan Osaka. Biaya asuransi juga tidak semahal biaya asuransi yang saya keluarkan ketika saya di Belanda.

Jika anda mengambil S3 lama program biasanya 3-4 tahun. Saya pikir bisa membawa keluarga, seperti penjelasan saya untuk yang mengambil S2.

Untuk di Jepang, tidak ada tambahan sponsor buat keluarga, jika anda membawa keluarga. Hanya ada tambahan tunjangan anak sampai umur 5 tahun, jika anda sudah memiliki anak. Sebenarnya ada kemudahan yang bisa didapat di Jepang, yaitu peluang kerja tambahan. Namun ini hanya bisa anda lakukan jika anda sudah menguasai bahasa Jepang, karena tawaran pekerjaan yang diberikan rata-rata dalam bahasa Jepang.

Saya mendengar beberapa negara lain seperti Perancis, Jerman dan Australia menyediakan tambahan tunjangan jika anda memiliki keluarga. Kebenarannya saya tidak tahu pasti karena belum pernah mengalami sendiri.

Semoga info ini bermanfaat.