Bidang apa sih yang sedang “laris” dan cerah masa depannya? Mungkin ini banyak ditanyakan oleh orang-orang sebelum mengambil keputusan memilih jurusan dan kampus yang diminati?

Kalau orang-orang mungkin berpendapat bidang teknik informatika / programming dll menjadi yang paling melejit sekarang. Saya setuju juga pada dasarnya.

Tapi kalau mau jujur, maka saya akan tanya balik: “Apa yang jadi minat kamu?”. “Kalau kamu benar-benar minat itu, lakukanlah sebaik-baiknya bidang itu! Tidak peduli jurusan kamu apa, asal kamu tahu “celahnya” dan jika Tuhan berkenan, mudah2xan berhasil deh. Saran tambahan saya, perkaya skill2x lain anda: bahasa-bahasa internasional (Inggris, Jepang, Cina, Perancis, Spanyoll, dll), komputer (program-program), dan membangun network. Selain itu, kalau anda ingin benar-benar ahli di bidang itu, ambil studi lanjut di bidang itu dan selesaikan sampai S3. Maaf, saya tidak menyinggung sama sekali tentang bisnis, karena saya buta tentang bisnis.

Sebagai contoh jika kamu sekarang mengambil studi sastra batak di Universitas Sumatera Utara, lanjutkanlah itu ke bidang S2 dan S3. Perlengkapi kemampuan bhs Inggrismu. Bayangkah bahwa kamu nanti bisa menjadi seorang pakar di bidang tersebut dan menjadi pembicara tentang sastra batak tapi dalam bahasa Inggris, Perancis atau Jerman.

Atau kalau saat ini anda sedang mengambil studi antropologi dan mempelajari tentang suku kubu atau suku-suku terasing lainnya di Indonesia, bersemangatlah. Bayangkan bahwa anda akan mengumpulkan dan menulis literatur-literatur yang bermanfaat tentang suku-suku terasing tersebut dan menyampaikannya di dunia internasional. Di satu sisi anda melestarikan kearifan budaya lokal, di sisi lain anda juga akan banyak berkembang.

***

Walaupun tidak persis nyambung, akan saya ceritakan kisah saya dibawah ini.

Dulu ketika saya masih SMP atau SMA, berkali-kali saya dijejali oleh orangtua atau keluarga untuk mengambil kuliah di kedokteran. Selalu dinasihati hal itu dan diberikan contoh si anu dan si anu dokter, lihat dia berhasil (baca: kaya). Atau kalau ada anak-anak tetangga yang baru keterima kuliah di kedokteran, maka aku juga suka dinasihati: “Tuh liat si anu sudah baru keterima di kedokteran, masa depan cerah”.

Wah, gimana ya? Aku sendiri waktu itu sadar, memang sih, kelihatannya korps baju putih itu pada bersih-bersih dan hmm, berhasil. Bayangkan saja, berapa banyak orang yang sakit. Sekali suntik istilahnya satu kepala dapat berapa, ya nggak?

Ketika satu kali, di akhir kelulusan SMA, sebelum UMPTN aku mengatakan ingin maksud Fisika UGM, orang tua langsung bingung. Dibilanglah, wah susah masa depan peneliti di Indonesia nak, ambillah program yang lain, kedokteran atau farmasi saja. Belajar pengalaman dari kondisi ekonomi orang tua yang juga peneliti, kehidupan peneliti di Indonesia memang terlihat susah. Dana penelitian kurang, gaji Dosen PNS juga ngepas, sementara itu kebutuhan terbatas. Lengkaplah sudah, bagaimana bisa jadi peneliti yang baik kalau dapur tidak mengepul dan fasilitas kurang.

Kembali ke soal ilmu kedokteran, aku memang tidak minat dari awal. Dasar ilmu kedokteran adalah biologi, ilmu yang dari awal tidak aku sukai dan akhirnya memang tidak bisa. Beberapa kali aku ditutor oleh bapak, yang adalah dosen biologi, tentang pelajaran biologi. Tapi tetap aku tidak bisa mengingat bahasa-bahasa latin dan memahami anatomi tumbuhan dan hewan. Kalau hanya jalan-jalan ke lapangan, membantu bapak, mengumpulkan tanaman paku untuk herbarium aku suka. Tapi kalau sampai mengingat daun yang daunnya keriting ini masuk spesies ini, berevolusi dari ini dan tumbuh di media seperti ini, wah aku ngga ingat tuh. Beneran, kalau rumus bakunya tidak ada seperti matematika dan fisika, sudah deh aku nyerah. Kalau kimia walaupun masih ada hapalan sedikit, tapi tetap ada rumus. Artinya logika matematikaku masih jalan.

Ketidaksukaanku pada ilmu kedokteran juga adalah masalah bedah-membedah. Aku ngeri lihat darah! Yaks, bayangkan kalau nanti aku ada di ruang operasi, wah bisa aku yang pingsan duluan sebelum melakukan operasi.

Akhirnya saya memutuskan melanjut ke ITB.

Setelah lulus dari ITB, di tahun-tahun awal orang tua juga mencoba mempengaruhi untuk aku bekerja di Bank. Alasannya simpel, bekerja di bank jelas masa depannya. Tapi memang dasar aku suka ke lapangan dan mempelajari sesuatu yang baru, aku lebih memilih bekerja sebagai peneliti dengan konsekuensi gaji terbatas seperti yang kupaparkan di atas.

Sebenarnya, sebagai lulusan dari teknik planologi, kerja di proyek-proyek tata ruang sebenarnya menggiurkan. Uangnya pun lumayan banyak karena proyek tata ruang yang tidak pernah habis. Tiap lima tahun dievaluasi dan bayangkan berapa banyak kota, kabupaten dan propinsi di Indonesia yang membutuhkan ini. Asal anda punya dan tahu networknya, banyak peluangnya, seperti beberapa teman2x😉

Kehidupan menjadi peneliti junior memang tidak gampang. Gaji terbatas dan banyak hal terbatas. Puji Tuhan setelah dapat kesempatan melanjutkan kuliah ke S2 dan saat ini S3, keadaan menjadi lebih menyenangkan. Menyenangkan bukan dari arti tabungan yang sudah banyak, tapi dari kesempatan bisa menikmati fasilitas2x yang tidak perlu dikeluarkan dari kocek sendiri seperti beasiswa dan perjalanan ke tempat-tempat baru.

Beberapa kali saya mendapatkan kesempatan menghadiri seminar internasional dengan dana yang disediakan oleh panitia penyelenggara. Itu fasilitas2x yang saya syukuri.

***

Intinya, kembali ke persoalan memilih jurusan, jika anda meminati sesuatu pilihlah itu. Ikuti kata hati anda. Tanya ke orang tua dan orang-orang terdekat anda. Jika mereka menganjurkan ke satu bidang dan anda merasa itu cocok. Pilihlah dan jangan kuatir. Jika anda memberikan yang terbaik dalam bidang apapun yang anda minati, kesempatan itu akan datang. Demikian juga dengan keberhasilan.