Buat Mas Saut

Nyambung pembicaraan yang dulu, klo boleh tahu dulu bagaimana proses seleksi yang dialami lewat program U to U. Saya pingin juga mencobanya siapa tahu beruntung. Mungkin ada trik dan strategi yang pernah dicoba dan tembus.

Makasih

Pertanyaan rekan di atas akan saya jawab di bawah ini berdasarkan pengalaman saya. Sebagai informasi awal, program Monbusho U to U adalah beasiswa yang diberikan kepada anda yang merupakan alumni atau bekerja di kampus yang memiliki kerjasama dengan kampus di Jepang (buat S2 dan S3). Karena itu namanya U to U, alias singkatan dari (kerjasama) universitas dengan universitas. Sebagai contoh kampus Kyoto Univ dengan ITB memiliki kerjasama, karena itu alumni ITB bisa melamar buat U to U. Untuk kampus anda, silakan cek dari website atau tanya langsung ke ketua jurusan atau dekan (maaf untuk ini saya tidak punya info). Besar beasiswa dan fasilitas yang diberikan adalah sama dengan beasiswa G to G, alias Government to Government. Untuk G to G silakan lihat tulisan Qnoi [thanks to Qnoi yang berbaik hati menulis panjang lebar tentang G to G😉 ]

Yang perlu dilakukan untuk U to U urutannya kira2x:

  • dapatkan profesor atau calon supervisor anda. Ini dimulai dengan cara mengirimkan email bahwa kita berminat dibimbing oleh beliau. Lihat posting saya tentang cara mengontak profesor. untuk U to U peran profesor sangat penting. Beliau nanti yang akan membantu anda untuk “mencarikan” dan memberikan rekomendasi kepada Monbusho (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jepang) yang menyediakan program beasiswa Monbusho / Monbukagakusho.
  • anda memasukkan berkas lamaran (ada formulirnya dan bisa diminta dari profesornya atau juga didownload dari internet) ke kampusnya, biasanya ditujukan ke alamat kantor profesornya. Semuanya dimasukkan dalam bahasa Inggris dan berdasarkan pengalaman saya tidak perlu diterjemahkan ke bahasa Jepang.
  • Isi berkasnya mencakup CV, Ijasah S1 dan S2, surat rekomendasi untuk U to U, surat rekomendasi dari supervisor S2 jika melamar S3 atau dari supervisor S1jika melamar S2, transkrip nilai S1 dan S2, thesis anda (skripsi atau tugas akhir S1 jika melamar S2 dan thesis S2 jika melamar S3), surat bukti cek kesehatan. Dalam lamaran itu, salah satu poin pentingnya adalah pertanyaan tentang: “Apakah anda sudah mempunyai calon pembimbing (prospective supervisor)?”. Jika anda sudah mengontak sebelumnya dan profesornya bersedia, maka anda bisa memasukkan nama beliau sebagai jawabannya.
  • Setelah berkas anda masukkan, biasanya ada proses seleksi yang dilakukan oleh profesornya melalui interview. Ini bermacam-macam. Untuk kasus saya dulu adalah beliau bersama dua rekannya mengirimkan email pertanyaan2x yang harus diselesaikan dalam satu hari. Untuk setiap email biasanya terdapat dua pertanyaan dan dijawab dalam dua halaman tulisan. Totalnya ada 8 tulisan diminta ke saya, untuk sekitar kurang dari dua minggu! Untuk setiap orang kasusnya beda. Mungkin saja anda ditelepon atau bahkan disuruh datang ke Jepang? Atau bisa juga interview langsung jika profesornya kebetulan berkunjung ke Indonesia (seperti kasus teman saya).
  • Proses U to U yang saya alami dua tahap. Tahap lamaran pertama, berkas kita masukkan ke kampus. Setelah lolos tahap ini, berkas yang sama akan diteruskan untuk tahap kedua untuk seleksi beasiswa. Jika anda lolos tahap kedua, maka anda akan menerima sepucuk surat dari kampus yang menyatakan bahwa anda mendapatkan beasiswa Monbusho.

Setahu saya U to U prosesnya lebih cepat dibanding G to G karena U to U tidak mengharuskan interview dan tes massal yang diselenggarakan oleh kedutaan Jepang. Sebagai catatan, proses U to U yang saya tempuh, totalnya sekitar 1 tahun sebelum saya bisa mendapatkan kepastian diterima di kampus dan diterima beasiswanya. Mungkin untuk G to G totalnya bisa mencapai 1,5 tahun.

Tips tambahan dari saya:

  • Tunjukkan bahwa anda antusias dengan program yang anda lamar. Seringlah kirim email, tapi bukan email junk. Melainkan email yang mengajak beliau diskusi, tanya pendapat yang berkaitan dengan risetnya.
  • Untuk itu “rajin2xlah” membaca tulisan-tulisan / publikasi calon supervisor anda dan tanya apa saja yang terkait dengan isi tulisannya.
  • Pilihlah profesor yang bisa berbahasa Inggris. Ini biasanya bisa anda ketahui dari apakah terdapat informasi website lab-nya yg berbahasa Inggris. Pernah satu kali saya kontak satu profesor dari Tokyo. Sampai beberapa lama dia tidak balas email. Teman saya bilang kemungkinan karena si profesor kurang bisa berbahasa Inggris dan tidak tertarik mahasiswa asing.
  • Jika anda punya “modal”, maka baik juga jika anda berkunjung ke lab calon profesor anda di Jepang. Saya tidak mengatakan bahwa anda harus mengeluarkan uang dari kantong sendiri. Ada beberapa cara yang membuat anda bisa datang ke sana. Mungkin ada kegiatan dari kantor yang membuat anda bisa datang ke Jepang. Jika ada manfaatkan kesempatan ini untuk “transit” ke kampus yang anda tuju dan temui profesor yang anda kontak. Kalau saya biasanya dengan mencoba memasukkan tulisan untuk konferensi internasional dan jika mendapatkan “grant” untuk datang ke sana, kesempatannya sekaligus untuk mengontak profesor / orang yang dituju tadi.
  • Jika tidak, cara lain bisa anda lakukan, adalah dengan menelepon profesor tersebut dan coba berbincang dengan beliau. Saya tidak bisa memastikan cara yang terakhir ini betul2x bermanfaat. Beberapa orang tidak menyarankan karena persoalan prifasi.

Kira-kira ini pengalaman saya, kalau ada pertanyaan silakan tulis di sini dan saya akan jawab sepanjang pengetahuan saya. Sukses!😀