alow mas… saya punya impian mau melanjutkan s2 di luar negeri, tapi sayangnya kemampuan akademis selama kuliah pas pas an. dengan modal nekat saya apakah saya bisa mengajukan beasiswa keluar negeri, dan apakah kiatnya agar bisa berhasil. thx mas… ;)

apakah modal nekat (saja) cukup untuk melamar beasiswa? sebelum ngomongin modal nekat, sebelum melamar beasiswa, minimal modal yang harus dimiliki ya beberapa hal berikut ini:

  • Sertifikat bahasa inggris yang biasanya ditunjukkan oleh TOEFL atau IELTS. Nah untuk ambil TOEFL biasanya bayar 27.5 USD minimal kalau yang institusional. Sementara itu kalau yang internasional butuh sampai 150-160 USD. Itu kalau anda tesnya hanya sekali. Lah kalau berkali-kali harus dihitung berapa modalnya, ya ngga?
  • Biaya melamar ke kampusnya? Banyak kampus mengharuskan membayar biaya lamaran untuk S2. Biasanya ini sekitar 50-70 USD. Bisa dibayar pakai credit card. Kalau anda tidak punya, bisa pakai punya teman tapi jangan lupa ganti ya😀 . Dulu saya bayar pake credit card teman juga kok. Tapi ada juga kampus yang tidak perlu bayar uang pendaftaran dulu, kecuali memang anda akan (pasti) berangkat ke sana. Bisa dihitung biayanya kalau kita melamar lebih dari satu kampus kan?
  • Biaya mengirim lamaran. Dulu saya pada tahun pertama melamar beasiswa mengirim tiga lamaran. Itu menghabiskan biaya per lamaran sekitar 150 – 250 rb rupiah. Beruntung waktu itu satu diterima. Bisa diperkirakan berapa biayanya, tergantung banyaknya kampus yang anda lamar.

Perlu diketahui, beasiswa tidak mengganti atau menyediakan biaya-biaya di atas, kecuali beasiswa-beasiswa yang menyediakan kursus bahasa Inggris buat saudara seperti Chevening, Ausaid dan Ford. Mungkin untuk Stuned yang sekarang ada kursus bahasa Inggris.

Memang beasiswa butuh biaya (capital) di awal. Tapi bayangkanlah bahwa itu tidak sebanding nanti dengan reward yang anda akan dapatkan seperti: jalan-jalan ke luar negeri gratis, biaya sekolah dan semua biaya hidup ditanggung dan bahkan kalau mau hemat anda bisa sedikit menabung dan bawa uang lebih banyak dari modal yang anda keluarkan tadi.

Setahu saya orang-orang dari negara yang “nekat” mengirimkan para pelajarnya ke luar negeri, seperti China dan India berani berinvestasi untuk biaya-biaya yang saya sebutkan di atas. Baca posting saya sebelumnya tentang negara pengeksplor pelajar. Mereka menganggap beasiswa sebagai salah satu jalan keluar bagi kaum mudanya untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan juga kesempatan bekerja yang lebih baik di luar negeri. Karena itu mereka berani berinvestasi. Bila anda tidak mau dan tidak mampu berinvestasi dalam hal ini, tentu ya anda akan kurang mampu bersaing.

Mungkin saran praktisnya adalah dengan bekerja dahulu selama satu – dua tahun setelah lulus S1, sambil mempersiapkan modal untuk biaya yang saya sebutkan di atas.

Terus bagaimana dengan IPK yang rendah misalnya? Ya, itu masih bisa ditutupi jika anda memiliki prestasi lain. Salah satu cara ya tingkatkan skor TOEFL, tunjukkan bahwa anda memiliki kemampuan lain, misalnya melalui karya tulis, tulisan-tulisan di koran, pengalaman kerja dan penelitian atau portofolio lain yang anda miliki.