Dhany Arifianto, salah seorang moderator milist beasiswa, mengirimkan taut artikel tentang “Why PhD Students need a helping hand from their supervisors?”

Menurut saya, ini tidak hanya berlaku pada PhD Students, tetapi juga berlaku pada mahasiswa bachelor (S1) dan juga mahasiswa master (S2) yang sedang menyelesaikan tugas akhir atau thesis. Dilema yang terjadi adalah memilih supervisor (pembimbing) yang “wah” tapi tidak memiliki waktu atau memilih supervisor yang “biasa-biasa” tapi punya waktu buat anda.

Pilih mana coba?

Ketika saya S1, saya pilih yang pertama. Alasan saya adalah saya ingin mengetahui seberapa mandirinya saya dan mampunya dibimbing oleh dosen yang wah. Persoalannya dosen yang wah atau yang hebat biasanya sangat sibuk dengan kegiatan penelitian, proyek, konsultasi dan macam-macam pekerjaan. Anda mungkin bukan one of his top priorities! Dan anda harus terima itu. Mungkin kebanggaan yang anda miliki bahwa anda dibimbing oleh dosen top akan membuat anda lebih percaya diri. Apakah ini yang anda cari? Jawabannya kembali kepada anda sendiri. Tetapi yang jelas itu beresiko.

Apa resikonya? Saya bisa bilang sebagian besar mahasiswa S1 masih bau kencur di dalam meneliti. Anda tidak mengetahui apa itu metode penelitian yang benar? Apa sebenarnya masalah yang perlu diteliti? Lebih lanjut lagi, anda tidak mengetahui apa itu “literature review” dan memilih literature yang tepat untuk penelitian anda. Intinya anda tidak bisa berjalan tanpa bimbingan! Nah, tanpa pembimbing yang punya waktu, maka resiko anda tinggi. Anda bisa berhasil, bisa juga tidak! Semua kembali ke anda. Jika anda bertemu literatur yang pas, contoh acuan penelitian yang pas, persoalan yang layak untuk diteliti maka anda bisa maju. Jika tidak? Ya siap-siap menghabiskan banyak waktu di proposal. Seingat saya dulu, saya menghabiskan lima sampai enam kali ganti judul penelitian. Total akhirnya saya habiskan satu setengah tahun “hanya” untuk riset. Total waktu yang sama dengan waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan S2 saya.

Ketika saya S2, ceritanya berbeda. Sebenarnya saya masih keras kepala dan mencoba untuk kembali mendapatkan supervisor yang wah. Tapi Tuhan berkehendak beda. Saya diberikan dua supervisor yang sudah “tua” secara umur dan bahkan satu orang sudah hampir pensiun karena ternyata akhirnya saya adalah mahasiswa bimbingannya yang terakhir.

Kedua orang supervisor(s) yang saya miliki kali ini berbeda. Yang jelas waktu yang mereka berikan sangat banyak. Setiap minggu kami berdiskusi. Dua supervisor dan saya. Bagi saya itu mewah sekali, mengingat pada saat bersamaan teman2x saya mendapatkan jatah bimbingan yang jauh lebih jarang dari itu. Satu teman saya memiliki supervisor yang dua-duanya bergelar doktor tetapi sibuknya setengah mampus. Mungkin mereka duduk sama-sama bertiga bisa dihitung kurang dari tiga kali selama total periode bimbingan!

Kembali ke waktu yang saya alami, di sini saya benar-benar merasakan apa yang dimaksud dengan bimbingan dalam penelitian. Penelitian adalah milik anda pribadi, tetapi supervisor berperan besar sebagai partner atau teman anda yang bisa dipercaya. Mereka periksa secara detail proposal saya, memberikan saya latihan presentasi beberapa kali di depan mereka, mengoreksi tulisan saya, mengecek analisis dan sebagainya. Bahkan termasuk menyediakan beberapa data yang saya butuhkan! Walaupun mereka bukan the real expert dibidang yang saya tekuni, tetapi saya bisa bilang mereka adalah the real supervisor. Mungkin Einstein tidak membutuhkan supervisor2x seperti ini. Tetapi kebanyakan dari kita bukan Einstein, kan? Kita butuh seseorang yang memberi masukan. Inilah yang berlaku di dalam penelitian. Hasilnya, thesis S2 saya, secara tidak saya duga, terpilih mewakili departemen untuk presentasi di kampus dan juga mendapatkan satu penghargaan dalam sebuah lomba yang berbeda.

Inti dari tulisan saya ini menegaskan bahwa peran seorang supervisor besar di dalam menentukan keberhasilan seorang peneliti dan juga kualitas penelitiannya. Jadi hati-hatilah dalam memilih supervisor😀

Bagaimana pengalaman anda?