Dalam seminar di lab hari ini, saya bertemu seseorang yang dijuluki Dr. Rain Water atau Dr. Makoto Murase. Mengapa “nick name”nya dihubungkan dengan air hujan?

Dr. Murase adalah pendiri dari “People for Rain Water” di Sumida City, Tokyo. Kegiatan dari PRW ini adalah mempromosikan dan juga menerapkan penggunaan air hujan secara optimal. Awal persoalannya adalah kekurangan sumber air yang dialami oleh kota Metropolitan seperti Tokyo. Sumber air di hulu terbatas untuk mencukupi kebutuhan air yang semakin meningkat akibat pertambahan penduduk di Tokyo. Dari sini dia berangkat dengan ide untuk menampung “air hujan”.

Apa yang dilakukannya? Ia berpendapat bahwa setiap “atap” bangunan di perkotaan adalah “dam mini”. Jadi ini bisa berfungsi seperti “dam raksasa” yang ada di hulu. Jika kita bisa menampung air di musim hujan, maka kita bisa menggunakannya untuk bermacam-macam fungsi di musim kering. Air hujan bisa diolah untuk menjadi sumber air minum dan macam-macam penggunaan lainnya.

Persoalan hujan asam atau bahan polutan berbahaya?

Saya menanyakan tentang bagaimana polusi yang ada di udara yang dibawa oleh air hujan ke Dr. Murase. Ia menjawab, kira-kira 10′ (menit) pertama kandungan polusi di air hujan memang tinggi. Tapi ini sebenarnya tergantung daerahnya. Mungkin ada yang lebih lama atau lebih sedikit waktu yang dibutuhkan. Setelah itu, air hujan menjadi lebih bersih dan lebih bebas polusi. Ia menambahkan bahwa mereka telah melakukan penelitian ini selama sekitar 20 tahun dan mendapatkan bahwa kualitas air hujannya cukup baik untuk menjadi sumber air minum. Ia bahkan berkelakar,” teh hijau (Green tea) yang dibuat dengan air hujan lebih enak karena air hujan rasanya soft”.

Di sisi lain dengan menampung air hujan, kita bisa mengurangi resiko banjir dengan mengurangi besarnya run-off. Sebagai contoh, stadium Sumo yang dibangun di Sumida dengan atap Seluas kurang lebih 10.000 M2 (1 Ha), akan menyebabkan run-off yang besar. Tapi dengan ide Dr. Murase, atap stadium tersebut dihubungkan ke “water tank” untuk menampung semua air hujan. Akibatnya run-off tidak ada dan air yang tertampung banyak sekali dan bisa digunakan untuk bermacam-macam fungsi seperti mencuci mobil dan keperluan toilet.

Peraih “rolex award” ini menambahkan bahwa idenya telah diterapkan di beberapa negara lain seperti China, Korea dan Bangladesh. Ia yakin perlahan-lahan air hujan akan menjadi solusi sumber air perkotaan. Di akhir presentasi ia menghadiahkan sebuah buku karangannya yang berjudul “Rainwater and You” untuk bacaan dan mungkin bisa diterapkan nanti di Indonesia.