*) Catatan, Deny Rusdianto adalah alumni Kehutanan UGM 98. Bekerja di Departemen Kehutanan bagian Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Lengkapnya tentang Deny, bisa dilihat di friendsternya.

=====================

Saya shock, benar2x shock sore ini (Minggu, Nov 10 2008).

Uyung online dan bertanya: “Mas Saut, sudah dengar kabarnya Deny (Rusdianto)?
Saya jawab belum. Tapi langsung firasat saya tidak enak.
“Apakah belum terima email dari Luluk?”, ujar Uyung
Belum, saya bilang. Firasat saya semakin tidak enak.

deny

Dan, akhirnya kekuatiran saya terjadi. “Mas Deny Rusdianto meninggal dunia jumat sore”, ujar Uyung.
Oh my God, I can’t believe it, I really can’t believe it!

Ketika menerima kabar ini, saya sedang menyiapkan file presentasi saya besok. Presentasi tentang disaster preparedness di Merapi.
Sudah tentu ketika saya mempersiapkan Merapi, saya akan teringat dengan rekan-rekan sekalian yang banyak membantu ketika pengambilan data Januari lalu.
Jadi, ketika mendengar kabar ini dan perasaan saya sendiri sedang di “Merapi”, saya benar2x tidak bisa menerima mengapa Deny dengan tiba2x telah pergi.

Saya mengenalnya tidak terlalu lama. Mungkin sekitar bulan November tahun lalu, setelah riset kita yang didanai oleh Provention tembus. Saya mulai kontak2x dengan Infront dan waktu itu Luluk mewakilkan Deny untuk menjadi kontak person urusan riset provention. Dengan ini, saya jadi sering menelepon Deny. Baru pada Januari saya bertemu dengan dia, langsung, di sebuah resto (seven resto?) dekat Mirota Kampus UGM.

Setelah itu, Deny, selain tentunya dengan rekan2x yang lain (Uyung, Luluk, Ari dan Pak Sudib) dan saya banyak terlibat dalam diskusi persiapan ke lapangan. Mulai dari urusan perijinan, rekrut para fasilitator (enumerator) dan juga ketika survei bersama pada malam hari di Merapi. Pulang dari Merapi pada malam hari naik motor, biasanya Uyung dan Deny berboncengan dan saya sendiri.

Di sela-sela pekerjaan kami di Merapi, Deny banyak bercerita tentang rencana masa depannya dan juga rencananya ke Wakatobi. Saya sharing pengalaman juga ke dia dan memberi motivasi untuk sekolah lanjut. Satu yang saya ingat adalah juga, kami pernah makan di sebuah pondok Sate, yang menurut Deny cukup terkenal rasanya dan harganya yang nyaman di kantor, ketika pulang dari kantor Bupati Sleman.

Maaf, rekan-rekan sekalian, saya jadi sangat melankolis. Tapi, saya benar-benar sangat bersedih dan rasanya saya tidak bisa diam saja tanpa menuliskan hal ini buat kita yang pernah merasakan bekerja sama dan mengenal Deny cukup dekat.

Turut berduka cita sedalam-dalamnya buat Deny Rusdianto. Kiranya Tuhan yang memberi kekuatan kepada keluarga Deny yang ditinggalkan.
Saya benar-benar berterima kasih buat bantuanmu untuk riset di Merapi dan bangga pernah berteman dengan kamu