Kolaborasi

4 Comments

Ketika anda melakukan penelitian, banyak usaha dan sumber daya yang diperlukan. Salah satu tips bisa dilakukan untuk mengatasi kekurangan-kekurangan sumberdaya bisa dengan melakukan kolaborasi.

Sebenarnya kolaborasi bukan “barang baru”, karena tentu anda pernah bekerja secara kelompok ketika mengerjakan tugas di bangku kuliah. Nah, prinsip yang sama juga berlaku pada saat pengerjaan penelitian.

Kolaborasi membuat kita bisa saling melengkapi. Coba lihat contoh berikut. A memiliki data, B memiliki kemampuan analisis tapi tidak memiliki data, C memiliki kemampuan menulis tapi tidak memiliki kemampuan analisis dan tidak punya data. Jika mereka berkolaborasi, maka ABC bisa membuat sebuah penelitian yang bagus.

Anda dan saya mungkin salah satu dari A, B atau C tersebut? Jika anda salah satunya, carilah rekan-rekan yang bisa saling melengkapi membuat anda bisa melakukan riset secara kolaborasi.

Bisa programming?

1 Comment

Beberapa minggu yang lalu saya cukup tertohok oleh pernyataan seorang guru di sini.

Saya amati, orang-orang dari Asia Tenggara jarang memiliki latar belakang programming, ujarnya. Mungkin anda senang menggunakan program yang sudah jadi, bikinan perusahaan-perusahaan IT atau import dari negara luar. Banyak kemudahan yang memang ditawarkan oleh program-program tersebut. Anda tinggal “push the button” dan mendapat hasilnya dalam sekejap.

Tapi justru itu kelemahannya. Apakah anda persis tahu “otak” dibalik bagaimana pengerjaan program tersebut?

Jika anda tahu programming, maka anda akan tahu step by step bagaimana program menghitung atau menjalankan perintah-perintah tersebut.

Menarik dan sekaligus tamparan keras buat saya.

Peri penolong

3 Comments

Orang bilang Tuhan bisa pakai siapa saja untuk membantu anda. Saya menyebutnya seperti ‘peri’ penolong.

***

Suatu pagi yang dingin di Belanda di awal Januari 2006 saya akan pergi ke suatu alamat di kota Arnhem untuk tes TOEFL.  Berbekal sandwich buatan sendiri yang sudah saya siapkan malam sebelumnya, saya bergegas menuju stasiun Enschede. Tiket sudah saya siapkan sebelumnya supaya tidak mengantri dan jadinya malah ketinggalan kereta.  Perjalanan yang saya tempuh dari Enschede memakan waktu sekitar 1 jam 45′ . Tes yang dilakukan pukul 9:00 pagi membuat saya harus berangkat paling tidak jam 6:30 waktu Belanda teng dari stasiun Enschede.

Udara winter memang tidak bersahabat, terutama winter di Belanda, pikir saya. Sewaktu-waktu salju bisa turun yang membuat repot ketika berjalan dan becek. Syukurlah pagi itu tidak ada salju walaupun mungkin waktu itu udara sekitar 5 derajat celcius. Suasana gelap ketika kereta berangkat karena masih pukul 6:30. Saya harus ganti kereta beberapa kali karena pagi itu tidak ada kereta langsung ke Arnhem. Orang-orang di kereta terlihat cuek. Semua mengenakan jaket winter yang tebal dan penutup kepala. Mereka kebanyakan berperawakan separuh baya, yang menunjukkan kebanyakan adalah para pekerja kantor ataupun karyawan-karyawan perusahaan.

Di tengah perjalanan, sesekali aku mengudap sandwich yang kubawa tadi. Kuteguk air keran yang kubawa dalam botol plastik bekas, aku mencoba memandang keluar menembus kesunyian pagi. Ah, sang surya masih lelap di peraduannya. Pukul 08:15 aku tiba di stasiun Arnhem. Orang-orang bergegas berlalu lalang meninggalkanku yang masih mencari-cari rute ke alamat yang kutuju. Kudapati sebuah peta di bagian luar stasiun dan kubandingkan dengan peta kecil di genggamanku. Sambil menduga-duga aku berjalan ke arah yang kurasa benar. Pagi itu di luar stasiun masih terlihat sepi dan gelap. Aku ragu untuk bertanya ke orang-orang karena udara yang dingin seperti membuat orang enggan berhenti. Akhirnya setelah berjalan sekitar 15′, kudapati nama jalan yang kucari. Hanya nama gedungnya yang kucari tidak ada tertulis di sekitar jalan tersebut. Dan aku tidak suasana sekitar pun masih terlihat sepi sekali. Akhirnya, kucoba mencari-cari ke sekitar sampai sekitar 10′ sebelum waktu tes berlangsung, namun tidak ketemu. Udara yang dingin menambah kegalaun.

Di tengah kebingunganku, tiba-tiba aku disapa seorang wanita separuh baya, mungkin berumur di atas 40 tahun. “Morning, are you looking for a place for a toefl test?” ujarnya. “Yes”, kubilang padanya. “I am the toefl test officer, come and follow me, ” katanya. Tiba-tiba ada suasana seperti menjadi sangat cerah.  Aku tidak banyak berbicara dan mengikuti langkahnya.

***

Pagi itu, Tuhan pakai petugas toefl menjadi peri penolongku.

Dua hal yang (paling) berkesan dalam hidup anda?

2 Comments

Sebutkan dua hal yang berkesan dalam hidup anda? Kira-kira itulah bunyi pertanyaan di lembar aplikasi Chevening yang saya pegang 7 atau 8 tahun y.l. Jawaban harus dituliskan dalam bentuk esai yang ditulis dalam B. Inggris.

Menuliskan apa yang paling berkesan dalam hidup tentu tidak gampang. Bagi sebagian besar orang mungkin banyak sekali hal yang berkesan, bagi sebagian besar lagi mungkin tidak atau (telah) terlupakan.

Ketika pertanyaan tersebut ada di benak saya, pikiran saya teringat pada beberapa hal. Mungkin saya bisa menjawab ‘keberhasilan’ masuk ke PTN, mendapatkan juara, atau hal-hal lain. Tetapi saya memilih sesuatu yang berbeda. Untuk dua hal itu saya memberi contoh dari kegagalan dan hal yang menyenangkan bagi saya dan bagaimana itu berkesan dan mempengaruhi jalan saya berikutnya.

***

Esai pertama yang saya tuliskan adalah tentang perjalanan saya di waktu kecil dan sampai kelas menengah. Orang tua membesarkan saya di Palembang, sementara saya dilahirkan di Yogyakarta dan keluarga besar kami masih tinggal di Sumatera Utara. Artinya, kami perlu menghabiskan waktu berpuluh-puluh jam perjalanan dari satu tempat  ke tempat lainnya. Tapi saya itu bagi saya menyenangkan. Bahkan impian liar saya waktu kecil adalah menjadi sopir karena kagum dengan betapa lihainya ia menyusuri jalan berkelok angka delapan di antara Padangpanjang dan Bukit Tinggi sampai ke Padang Sidempuan dan melewati kendaraan-kendaraan lain dengan cepat tanpa takut sedikitpun. Yang saya nikmati adalah ketika saya melewati kota-kota besar seperti Jambi, Bukit Tinggi, Pekanbaru dan kota-kota lainnya. Angkot dari setiap kota yang terlihat berbeda. Nama-nama dari kota-kota yang terkesan asing tetapi mencirikan lokal yang menarik terdengar. Jenis-jenis makanan yang berbeda tetapi menggoyang lidah. Bahasa daerah yang berbeda dari satu provinsi ke provinsi lain, termasuk juga arsitektur bangunan-bangunannya yang berbeda-beda. Bangunan atap sumatera barat mulai terlihat ketika kita memasuki perbatasan antara Jambi dan Sumatera Barat. Demikian juga ketika melewati Kota Bukit Tinggi dan menuju Padang Sidempuan. Pengalaman di atas, bagi saya, mempengaruhi “kecintaan” saya untuk bidang studi planologi yang saya tekuni sampai sekarang. Itulah yang kemudian saya tuliskan dalam essay saya tersebut.

Pengalaman kedua yang saya tuliskan dalam essay kedua adalah tentang ketika saya harus mendekam sekitar 40 hari di tempat tidur tanpa bisa kemana-mana ketika saya libur SMP. Karena kecelakaan dalam sebuah permainan anak “hide and seek”, saya harus menderita luka pada kaki yang cukup parah. Akibatnya masa liburan yang sedianya menyenangkan menjadi membosankan. Tapi, bagi saya itu adalah “pelajaran”. Pelajaran yang membuat saya akhirnya menikmati membaca buku-buku. Saya banyak mengisi waktu dengan membaca buku ketika kejadian tersebut, termasuk juga di antaranya buku-buku pelajaran. Kalau orang mungkin bilang “sengsara membawa nikmat”.

Kedua essay itu saya masukkan dalam lamaran saya ke “Chevening” dan Puji Tuhan waktu itu saya dipanggil untuk lolos ke tahap berikutnya. Tetapi saya tidak mengambil kesempatan pergi ke panggilan beasiswa Chevening karena sebelumnya sudah dinyatakan lolos untuk beasiswa Stuned.

***

Kalau sekarang ditanya apa saja hal yang paling berkesan dalam hidup, saya bisa menambahkan daftar yang lebih panjang, terutama sejak tahun 2004 ketika saya memulai studi S2 di Belanda. Saya tidak menyangka untuk kesempatan bisa menjalani negara-negara lain dan saya benar-benar bersyukur (pada Tuhan) buat semua ini. Tidak berarti perjalanan saya mulus terus, tetapi apa yang saya ingat adalah untuk setiap kejadian ada sesuatu yang Tuhan rencanakan, termasuk juga ketika mengalami kesulitan.