Sebutkan dua hal yang berkesan dalam hidup anda? Kira-kira itulah bunyi pertanyaan di lembar aplikasi Chevening yang saya pegang 7 atau 8 tahun y.l. Jawaban harus dituliskan dalam bentuk esai yang ditulis dalam B. Inggris.

Menuliskan apa yang paling berkesan dalam hidup tentu tidak gampang. Bagi sebagian besar orang mungkin banyak sekali hal yang berkesan, bagi sebagian besar lagi mungkin tidak atau (telah) terlupakan.

Ketika pertanyaan tersebut ada di benak saya, pikiran saya teringat pada beberapa hal. Mungkin saya bisa menjawab ‘keberhasilan’ masuk ke PTN, mendapatkan juara, atau hal-hal lain. Tetapi saya memilih sesuatu yang berbeda. Untuk dua hal itu saya memberi contoh dari kegagalan dan hal yang menyenangkan bagi saya dan bagaimana itu berkesan dan mempengaruhi jalan saya berikutnya.

***

Esai pertama yang saya tuliskan adalah tentang perjalanan saya di waktu kecil dan sampai kelas menengah. Orang tua membesarkan saya di Palembang, sementara saya dilahirkan di Yogyakarta dan keluarga besar kami masih tinggal di Sumatera Utara. Artinya, kami perlu menghabiskan waktu berpuluh-puluh jam perjalanan dari satu tempat  ke tempat lainnya. Tapi saya itu bagi saya menyenangkan. Bahkan impian liar saya waktu kecil adalah menjadi sopir karena kagum dengan betapa lihainya ia menyusuri jalan berkelok angka delapan di antara Padangpanjang dan Bukit Tinggi sampai ke Padang Sidempuan dan melewati kendaraan-kendaraan lain dengan cepat tanpa takut sedikitpun. Yang saya nikmati adalah ketika saya melewati kota-kota besar seperti Jambi, Bukit Tinggi, Pekanbaru dan kota-kota lainnya. Angkot dari setiap kota yang terlihat berbeda. Nama-nama dari kota-kota yang terkesan asing tetapi mencirikan lokal yang menarik terdengar. Jenis-jenis makanan yang berbeda tetapi menggoyang lidah. Bahasa daerah yang berbeda dari satu provinsi ke provinsi lain, termasuk juga arsitektur bangunan-bangunannya yang berbeda-beda. Bangunan atap sumatera barat mulai terlihat ketika kita memasuki perbatasan antara Jambi dan Sumatera Barat. Demikian juga ketika melewati Kota Bukit Tinggi dan menuju Padang Sidempuan. Pengalaman di atas, bagi saya, mempengaruhi “kecintaan” saya untuk bidang studi planologi yang saya tekuni sampai sekarang. Itulah yang kemudian saya tuliskan dalam essay saya tersebut.

Pengalaman kedua yang saya tuliskan dalam essay kedua adalah tentang ketika saya harus mendekam sekitar 40 hari di tempat tidur tanpa bisa kemana-mana ketika saya libur SMP. Karena kecelakaan dalam sebuah permainan anak “hide and seek”, saya harus menderita luka pada kaki yang cukup parah. Akibatnya masa liburan yang sedianya menyenangkan menjadi membosankan. Tapi, bagi saya itu adalah “pelajaran”. Pelajaran yang membuat saya akhirnya menikmati membaca buku-buku. Saya banyak mengisi waktu dengan membaca buku ketika kejadian tersebut, termasuk juga di antaranya buku-buku pelajaran. Kalau orang mungkin bilang “sengsara membawa nikmat”.

Kedua essay itu saya masukkan dalam lamaran saya ke “Chevening” dan Puji Tuhan waktu itu saya dipanggil untuk lolos ke tahap berikutnya. Tetapi saya tidak mengambil kesempatan pergi ke panggilan beasiswa Chevening karena sebelumnya sudah dinyatakan lolos untuk beasiswa Stuned.

***

Kalau sekarang ditanya apa saja hal yang paling berkesan dalam hidup, saya bisa menambahkan daftar yang lebih panjang, terutama sejak tahun 2004 ketika saya memulai studi S2 di Belanda. Saya tidak menyangka untuk kesempatan bisa menjalani negara-negara lain dan saya benar-benar bersyukur (pada Tuhan) buat semua ini. Tidak berarti perjalanan saya mulus terus, tetapi apa yang saya ingat adalah untuk setiap kejadian ada sesuatu yang Tuhan rencanakan, termasuk juga ketika mengalami kesulitan.