Ketika kembali ke Indonesia, saya tetap menggunakan kebiasaan lama saya, yaitu menggunakan angkutan publik. Untuk perjalanan ke tempat kerja, yang saya gunakan adalah angkot yang memakan waktu perjalanan sekitar 15 menit dan ongkos seribu lima ratus perak. Biaya yang murah ya?

Di dalam kendaraan saya mengamati, dua bangku memanjang yang saling berhadapan, yang bisa diisi penumpang lima pada satu barisnya dan baris yang lain dengan enam atau tujuh penumpang. Selain itu, terdapat juga satu lagi bangku tembak atau bangku tempel.

Pemandangan ini tidak berubah dari apa yang saya juga alami ketika pertama kali sampai ke Bandung tahun 1996. Empat belas tahun berlalu, tidak banyak perubahan. Yang jelas berubah hanya rute-rute yang semakin dibuat ruwet dan membuat pusing plus jalanan Bandung yang menjadi ajang off-road.

Bentuk-bentuk angkot di atas, yang persis sama dengan yang saya naiki dulu, mungkin saja sudah ada jauh sebelum saya datang. Belasan tahun lewat, tapi tingkat kenyamanan tetap sama. Bagi saya dulu pelayanan seperti itu adalah nyaman, tetapi apakah itu berarti tidak ada perubahan? Belum lagi kalau kita mau membandingkan dengan pelayanan angkutan publik di negara tetangga seperti Singapura ataupun yang sedikit lebih jauh seperti Korea dan Jepang?

Siapa yang bertanggung jawab di sini? Apakah kita memiliki visi untuk perubahan untuk sistem pelayanan transportasi yang lebih baik? Kota yang baik adalah kota yang memiliki sistem transportasi yang baik. Sistem yang mampu membuat penduduk atau pengguna dapat menikmati pergerakan dengan aman dan nyaman. Ini seharusnya yang menjadi visi pemerintah atau penguasa terhadap kota atau daerahnya.

Pernah saya bermimpi. Saya membayangkan ada angkutan bawah tanah (subway) di sepanjang jalan dago. Yang menghubungkan terminal dago di atas sampai ke Bank Indonesia di jalan Merdeka. Mimpi saya juga tidak berhenti di situ. Saya bermimpi ada subway dari cicaheum yang melewati jalan Suci terus menuju Cikapayang dan melintas lewat lembah sungai Cikapundung dan terhubung ke jalan pasteur. Tentunya ada penghubung yang melalui Jalan Cihampelas dan menyambung ke Stasiun Bandung, sehingga penumpang kereta dari luar kota dapat berkeliling seantero kota Bandung dengan menggunakan kereta-kereta dalam kota dan subway tadi. Saya memimpikan lagi, nama kereta-kereta tersebut bisa diambil dari nama-nama daerah. Kereta Cicapas menghubungkan Cicaheum-Pasteur, Subway Damer untuk nama rute Dago – Merdeka, dll.

Ah, tapi untuk ini mungkin saya masih harus terus bermimpi.

Bandung, penghujung Mei 2010.